Articles

dakwatuna.com's picture

Syurut Qobulu Syahadatain (Syarat Diterimanya Syahadatain), bagian ke-2

Ucapan syahadat mesti diiringi dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Ucapan syahadat yang bercampur dengan riya’ atau ada niat lain yang bukan untuk Allah SWT, maka ia akan tertolak. Terlebih lagi ketika nilai tauhid terkotori oleh kesyirikan. Ikhlas dalam bersyahadat merupakan dasar yang paling penting dalam pelaksanaan syahadat.



3. Keikhlasan Yang Menolak Kesyirikan

Ucapan syahadat mesti diiringi dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala. Ucapan syahadat yang bercampur dengan riya’ atau ada niat lain yang bukan untuk Allah SWT, maka ia akan tertolak. Terlebih lagi ketika nilai tauhid terkotori oleh kesyirikan. Ikhlas dalam bersyahadat merupakan dasar yang paling penting dalam pelaksanaan syahadat.

Syahadat merupakan ibadah, karenanya harus dilakukan dengan ikhlas. Allah SWT berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Selain itu, kesyirikan menghapus amal-amal seseorang, betapapun banyaknya amal itu.

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65).

Dan ibadah yang tidak diniatkan dengan ikhlas tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

”Katakanlah: Sesungguhnya Aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya“. (QS. Al-Kahfi: 110).

4. As-Shidqu (Benar) Yang Menolak Kebohongan (Dusta)

Dalam pernyataan syahadat muslim wajib membenarkannya tanpa dicampuri sedikit pun dusta (bohong). Ash-Shidqu ma’allah mutlak diperlukan demi menjaga kemurnian tauhid seseorang. Benar adalah landasan iman, sedangkan dusta landasan kufur. Sikap shiddiq akan menimbulkan ketaatan dan amanah. Sedangkan dusta menimbulkan kemaksiatan dan pengkhianatan. Dusta dan berbohong bertentangan dengan nilai kejujuran, membuat keimanan seseorang ditolak oleh Allah.

Ciri-ciri taqwa adalah sikap shiddiq (jujur). Sebagaimana firman Allah SWT,

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zumar: 33).

Orang yang benar dan jujur syahadahnya akan terbukti dalam medan jihad dan Allah membalas mereka, sedangkan orang-orang munafik akan mendapat siksa.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya). Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 23-24).

Sedangkan ciri kemunafikan adalah dusta. Sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ

“Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al-Baqarah: 8-10).

Kebenaran dan kemunafikan diuji melalui cobaan. Untuk dilihat siapa sesungguhnya yang jujur dengan keimanannya.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Sikap benar mengajak kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke surga. Sifat dusta mengajak kepada keburukan dan keburukan membawa ke neraka. Rasulullah bersabda,

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan kepada surga. Seseorang berlaku jujur sehingga ia dicatat sebagai orang jujur. Sesungguhnya dusta menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan menunjukkan kepada neraka. Seseorang berlaku dusta hingga ia ditulis sebagai pendusta.” (HR. Bukhari Muslim).

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim melakukan hal-hal yang sejalan dengan keyakinannya dan meninggalkan yang meragukannya, sesungguhnya benar itu menenangkan (hati) sedangkan dusta itu meragu-ragukan.

Rasulullah bersabda,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ

“Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”

– Bersambung

See original: dakwatuna.com Syurut Qobulu Syahadatain (Syarat Diterimanya Syahadatain), bagian ke-2

Share

ISLAM PASTI MENANG .......apakah sikap kita yang sepatutnya - al-Banna



Apabila ditegaskan, "Oleh itu jelaslah kepada kita bahawa kelemahan umat Islam ini tidak akan selama-lama. Islam sekali lagi akan mencapai kejayaan dan menjadi pentadbir alam ini". Maka apakah sikap kita?



Sikap Kita

Kita sebagai pejuang agama Allah ini seharusnya mempunyai sikap yang optimis dengan kejayaan yang bakal di hadapi oleh Islam. Kita tidak seharusnya bersifat putus asa dan keluh kesah dengan suasana dan penindasan musuh terhadap umat Islam. Malah kita yakin dengan janji-janji Allah bahawa Allah akan memenangkan agamanya walaupun dihalang oleh orang-orang kafir.




Dengan keyakinan ini bukan bermakna kita akan berdiam diri dan berpeluk tubuh dengan menunggunya kemenangan yang dijanjikan oleh Allah. Tetapi dengan keyakinan ini, seharusnya kita mempergandakan amalan dan usaha kita dalam menegakkan agama Allah ini.

Janganlah umat mengimpikan kemenangan muslimin terhadap Yahudi sedangkan umat masih lagi berpecah belah, berselisihan dan pergaduhan. Janganlah umat berangan-angan dengan kemenangan sedangkan umat masih lagi bermalasan dan tidak bersungguh-sungguh.



Mustahil kemenangan diberikan kepada orang yang bermalasan dalam berhadapan dengan musuh yang berjuang bersungguh-sungguh menghancurkan Islam. Mustahil kemenangan diberikan kepada umat yang hanya meluangkan cebisan waktu untuk Islam dalam berhadapan dengan musuh yang meluangkan sepenuh waktu untuk meruntuhkan Islam. Maka cepat atau lewatnya kemenangan Islam adalah di bahu kita bersama yang akan dipersoalkan oleh Allah Ta'ala nanti.


Dan ingatlah kata-kata Saidina Umar kepada sahabatnya: " Impikanlah" Seorang pemuda berkata: " Aku mengimpikan jika sekiranya negeri ini dipenuhi dengan emas lalu aku infakkan pada jalan Allah." Omar berkata lagi: "Impikanlah". Seorang pemuda berkata: "Aku mengimpikan jika negeri ini dipenuhi dengan batu permata lalu aku infakkan pada jalan Allah." Omar berkata lagi: "Impikanlah". Mereka berkata: "Kami tidak tahu apa yang hendak dikatakan wahai Amirul Mukminin" Omarpun berkata: "Tetapi aku mengimpikan rijal seperti Abu Ubaidah bin al Jarrah, Muaz bin Jabal dan Salim, hamba Abu Huzaifah. Lalu aku meminta pertolongan dari mereka untuk meninggikan kalimah Allah".


Itulah sebenarnya modal utama untuk kembali memerintah dunia. Seorang pemuda lebih berharga dan bernilai dari seluruh isi dunia. Maka pemuda inilah yang akan berjuang sehingga tertegaknya Dinul Islam ini. Wallahu A'alam.

See original: . ISLAM PASTI MENANG .......apakah sikap kita yang sepatutnya - al-Banna

Share

KEKUATAN YANG DIMILIKI OLEH UMAT ISLAM - as-Syahid Imam al-Banna


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Kekuatan yang dimiliki oleh Muslimin.


Sesungguhnya Muslimin mempunyai kekuatan yang tidak ada pada manusia yang lain.

Penegakan Daulah Islam(Negara Islam) yang pertama di Madinah telah meninggalkan kesan yang mendalam dalam hati umat Islam. Gerakan dan cara yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah menjadi panduan kepada Muslimin hari ini untuk menegakkan Islam kembali. Perlu diyakini bahawa marhalah/peringkat dakwah dan cara yang dilakukan oleh Rasulullah itu merupakan 'Rabbani Taujih' (panduan dari Allah) yang diberikan kepada Rasulullah sehingga Islam tertegak dengan megahnya di muka bumi ini. Maka dengan bekalan pengalaman ini, muslimin mengatur langkah dalam menegakkan Islam kembali di muka bumi ini.


Selain daripada itu, muslimin mempunyai kekuatan yang tidak boleh dipandang lekeh oleh manusia. Kita boleh simpulkan bahawa muslimin mempunyai tiga unsur kekuatan yang mampu menggugat kekuatan musuh.


Pertama: Kekuatan kuantiti.

Islam pada hari ini mempunyai bilangan penganut yang hampir suku penduduk dunia yang tersebar di seluruh benua di dunia. Sesungguhnya jumlah yang ramai ini merupakan antara aset utama dalam menegakkan Islam. Ianya merupakan satu nikmat yang seharusnya disyukuri. Sepertimana firman Allah swt

وَاذْكُرُواْ إِذْ كُنتُمْ قَلِيلاً فَكَثَّرَكُمْ

"Ingatlah, ketika kamu masih sedikit, kemudian kamu telah menjadi banyak…"(Al A'araf: 86).

Jamaluddin Al Afghani pernah berkata kepada rakyat India: "Jika sekiranya bilangan kamu yang berjuta-juta ini semuanya menjadi lalat, nescaya kamu mampu untuk menghancurkan telinga Inggeris."

Kedua: Hasil Bumi.

Muslimin pada hari ini menetap di negara-negara yang amat kaya dengan hasil buminya. Negara yang yang kaya dengan minyak dan bahan galian yang lain serta tanah yang subur untuk pertanian. Semuanya ini merupakan kepunyaan muslimin.

Ketiga: Manhaj Rabbani(Ajaran Bersumber Dari ALlah).

Inilah kekuatan yang tidak ada pada manusia yang lain. Muslimin menyeru manusia kepada satu sistem yang mampu membawa keadilan dan kebahagiaan kepada alam sejagat. Sistem ciptaan manusia yang wujud pada hari ini sebenar telah membawa kepada kerosakan dan kesengsaraan kepada manusia. Manusia yang berfikir tidak akan sekali-kali menolak sistem Allah ini.

Oleh itu jelaslah kepada kita bahawa kelemahan umat Islam ini tidak akan selama-lama. Islam sekali lagi akan mencapai kejayaan dan menjadi pentadbir alam ini.

See original: . KEKUATAN YANG DIMILIKI OLEH UMAT ISLAM - as-Syahid Imam al-Banna

Share

AKIBAT BERBUAT MAKSIAT dan KEMUNGKARAN

(Bahagian 2)

1-Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan
Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, „Aku melihat Allah telah menyiratkan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.

2- Maksiat Menghalangi Rezeki
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rezeki. Maka meninggalkannya berarti menimbulkan kefakiran. „Seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya" (HR. Ahmad)

3- Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, „Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa."

4- Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang Lain
Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri.

Seorang salaf berkata, „Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku."

5- Maksiat Menyulitkan Urusan

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat Menggelapkan Hati Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita.

Ibnu Abbas ra berkata, „Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk."

6- Maksiat Melemahkan Hati dan Badan

Kekuatan seorang mukmin terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat maka kuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinya sendiri. Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum muslimin yang telah mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi.

7-Maksiat Menghalangi Ketaatan

Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mengalami sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik.

8- Maksiat Memperpendek Umur dan Menghapus Keberkahan

Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu tak ada yang namanya hidup kecuali jika kehidupan itu dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta dan dzikir kepada Allah serta mementingkan keridhaan-Nya.

9- Maksiat Menumbuhkan Maksiat Lain

Seorang ulama Salaf berkata, bahwa jika seorang hamba melakukan kebaikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebaikan yang lain dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburukan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan keburukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku.

10- Maksiat Mematikan Bisikan Hati Nurani

Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan untuk bertobat. Inilah yang akan menjadi penyakit hati yang paling besar.

11- Maksiat Menghilangkan Keburukan Maksiat Itu Sendiri dan Memudahkan Dosa

Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, maka ia tidak lagi buruk memandang perbuatan itu, sehingga maksiat itu menjadi adat kebiasaan. Ia pun tidak lagi mempunyai rasa malu melakukannya, bahkan memberitakannya kepada orang lain tentang perbuatannya itu. Dosa yang dilakukannya dianggapnya ringan dan kecil. Padahal dosa itu adalah besar di mata Allah swt.

12- Maksiat Warisan Umat Yang Pernah Diazab
Misalnya, homoseksual adalah warisan umat nabi Luth as. Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah peninggalan kaum Syu’aib as. Kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalah milik Fir’aun dan kaumnya. Sedangkan takabur dan congkak merupakan warisan kaum Hud as.

Dengan demikian boleh dikatakan, bahwa pelaku maksiat zaman sekarang adalah kaum yang memakai baju atau mencontoh umat terdahulu yang menjadi musuh Allah swt.


Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibmu Umar disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda, „ ... Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongannya."


13- Maksiat Menimbulkan Kehinaan dan Mewariskan Kehinadinaan

Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiatnya kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya. „...Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." (QS. Al-Hajj:18)

Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan, karena kemuliaan itu hanya akan muncul dari ketaatan kepada Allah swt. „Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah kemuliaan itu ..." (QS. Al-Faathir:10)

Seorang Salaf pernah berdoa, „Ya Allah, anugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada Mu, dan janganlah Engkau hina dinakan aku karena aku bermaksiat kepada Mu."

14- Maksiat Merusak Akal

Ulama Salaf berkata, bahwa seandainya seseorang itu masih berakal sehat, maka akal sehatnya itulah yang akan mencagahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasehat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat kecuali akalnya telah hilang.

15- Maksiat Menutup Hati
Allah berfirman, „Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (Al-Muthoffifiin:14)
Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk maka hatinya pun telah tertutup.

16- Maksiat Dilaknat Rasulullah saw

Rasulullah saw melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR Bukhari), melakukan perbuatan homoseksual (HR Muslim), menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki, mengadakan praktek suap-manyuap (HR Tarmidzi) dan sebagainya.

17- Maksiat Menghalangi Syafaat Rasul dan Malaikat

kecuali bagi mereka yang bertobat dan kembali ke pada jalan yang lurus, sebagaimana Allah swt berfirman : „(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : „Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyla-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan ... „ (QS: Al-Mukmin:7-9)

18- Maksiat Melenyapkan Malu

Malu adalah pangkal kebajikan, jika rasa malu telah hilang, hilangkah seluruh kebaikannya. Rasulullah bersabda : „Malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu." (HR. Bukhari)

19- Maksiat Meremehkan Allah

Jika seseorang berlaku maksiat, disedari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati. Jika perasaan itu masih ada, tentulah ia akan mencegahnya dari berlaku maksiat.

20- Maksiat Memalingkan Perhatian Allah

Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan syaitan. Allah berfirman : „Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al-Hasyir:19)

21- Maksiat Melenyapkan Nikmat dan Mendatangkan Azab

Allah berfirman : „Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS Asy-Syura:30)

Ali ra berkata : „Tidaklah turun bencana malainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat."

22- Maksiat Memalingkan Istiqamah

Orang yang hidup di dunia ini bagaikan seorang pedagang. Pedagang yang cerdik tentu akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga tinggi. Ialah Allah yang akan membeli barang itu dan dibayarnya dengan kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjualnya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, ketika itulah ia tertipu.

Sumber : Al-Qur'an & Sunnah „Akibat Berbuat Maksiat" karya Inbul Qayyim Al-Jauziah

See original: . AKIBAT BERBUAT MAKSIAT dan KEMUNGKARAN

Share

AKIBAT BERBUAT MAKSIAT dan KEMUNGKARAN

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـنِ الرَّحِيمِ

(Bahagian 1 : Pengantar)

„Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertaubat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat , „



Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (QS Al-Muthoffifiin : 14) (HR Tarmidzi)



Perbuatan Maksiat Dalam Al-Qur'an .

Allah swt berfirman yang artinya : „Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada ku" (QS.51:56)

Di sana Allah swt menegaskan kepada manusia, bahawa maksud dari penciptaan manusia dan jin adalah hanya untuk beribadah kepada Allah swt, lain tidak. Dalam rangka menunaikan tugas ibadah tersebut, manusia diperintahkan untuk taat dan tunduk kepada semua perintah Allah swt, baik yang langsung Allah swt firmankan dalam Al-Qur'an, maupun yang disampaikan melalui sabda Rasulullah saw.

Oleh sebab itulah di dunia ini hanya terdapat 2 golongan manusia.

1) Golongan pertama adalah mereka yang selalu taat pada segala perintah Allah swt dan sunnah Rasulullah saw.

2) Golongan kedua adalah mereka yang ingkar kepada dua hal tersebut.

Perbuatan ingkar itulah yang disebut dengan maksiat dan setiap perbuatan maksiat itu adalah dosa.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziah mengatakan, bahwa orang-orang bodoh mengandalkan rahmat dan ampunan Allah swt sehingga mereka mengabaikan perintah dan larangan-Nya serta lupa dengan azab-Nya yang pedih dan tak mungkin dicegah. Barangsiapa yang mengandalkan ampunanNya tetapi tetap berbuat dosa, dia sama dengan orang-orang yang membangkang.

Nasib Para Pelaku Maksiat

Al-Qur'an telah banyak menceritakan berbagai kejadian dan bahaya yang ditimbulkan dari perbuatan maksiat. Cerita tersebut bukanlah sesuatu yang dibuat-buat atau lamunan, apalagi cerita bohong untuk sekedar menakut-nakuti manusia, namun ia benar-benar terjadi dan menjadi tragedi bagi umat manusia.

Di antaranya adalah banjir besar yang mencapai puncak gunung pada masa nabi Nuh as yang menjadikan penghuni bumi karam tenggelam, angin puting beliung yang berhembus keras membanting kaum ‘Ad hingga semua mati bagaikan pelepah kurma yang berguguran, guntur dahsyat yang mematikan kaum Tsamud, hujan batu di negeri Sodom pada kaum nabi Luth yang membinasakan semua penghuninya, awan azab berupa mega naungan yang ketika turun bagaikan api yang membakar kaum Syu’aib, tenggelamnya Fir’aun dan kaumnya di sungai Nil, jeritan suara keras yang menghancurkan orang-orang yang digambarkan dalam surat Yasin.

Sekali lagi, semua kisah tersebut benar terjadi. Dan penyebab turunnya azab Allah swt tersebut tidak lain adalah perbuatan dosa dan maksiat sehingga semua menjadi pelajaran bagi umat manusia hingga hari kiamat.

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah Rasulullah saw bersabda : „Wahai segenap Muhajirin, ada lima hal yang membuat aku berlindung kepada Allah swt dan aku berharap kalian tidak mendapatkannya. Pertama, tidaklah perbuatan zina tampak pada suatu kaum sehingga mereka akan tertimpa bencana wabah dan penyakit yang tidak pernah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka. Kedua, tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan melainkan mereka akan tertimpa , masalah ekonomi dan kedurjanaan penguasa. Ketiga, tidaklah suatu kaum menolak membayar zakat melainkan mereka akam mengalami kemarau panjang. Sekiranya tidak karena binatang, niscaya mereka tidak akan diberi hujan. Keempat, tidaklah suatu kaum melakukan tipuan (ingkar janji) melainkan akan Allah swt utus kepada mereka musuh yang akan mengambil sebagian yang mereka miliki. Kelima, tidaklah para imam (pemimpin) mereka meninggalkan (tidak mengamalkan Al-Qur'an) melainkan akan Allah swt jadikan permusuhan antara mereka."

Rasulullah saw juga bersabda : „Jika engkau dapati Allah Azza wa Jalla memberikan limpahan kekayaan kepada seorang hamba padahal hamba itu tetap berada di dalam kemaksiatan, maka tak lain hal itu merupakan penundaan tindakan dari Nya" (HR Ahmad)

Selanjutnya beliau (Rasulullah saw) membaca ayat yang artinya : „Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa." (QS Al-An’aam : 44)

Imam Ahmad meriwayatkan, Abi Rafi’ bercerita bahwa Rasulullah saw pernah melewati pekuburan Baqi. Lalu beliau berkata, „Kotorlah engkau, cis ... !" Aku menyangka kiranya beliau maksudkan diriku. Beliau bertutur, „Tidak, cuma inilah kuburan si fulan yang pernah kuutus untuk memungut zakat pada bani fulan lalu dia mencuri baju wol dan kini dia sedang dipakaikan baju yang serupa dari api neraka.

Dalam shahih Muslim dikatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : „Penduduk yang di dunia begelimang kesenangan sementara dia itu termasuk ahli neraka dihadirkan pada hari kiamat untuk kemudian dicelup dengan celupan neraka. Kemudian kepada mereka dikatakan, „Hai ibnu Adam, adakah kau lihat kebaikan ?" Dia menjawab, „Wallahi, tidak ya Rabbi !" Dan manusia yang di dunia paling sengsara hidupnya sementara dia itu calon penghuni surga akan dicelup dengan celupan surga. Lalu kepada mereka akan dikatakan, „Hai ibnu Adam, adakah kau peroleh kesengsaraan ? Adakah kau temui kegetiran ?" Dia menjawab, „Tidak, demi Allah ya Rabbi, tidak kudapati sama sekali.""

Sedangkan dalam shahih Muslim Rasulullah saw pernah bersabda tentang 3 golongan manusia yang pertama diadili di hari akhir. Golongan pertama adalah mereka yang mati syahid. Diantara mereka wajahnya tersungkur dan diseret ke neraka karena ternyata perang yang telah dilakukannya semata-mata hanya agar disebut pahlawan. Golongan kedua adalah orang yang sering membaca Al-Qur'an, rajin menuntut ilmu dan senantiasa mengamalkan pengetahuannya. Namun ternyata mereka juga tersungkur dan diseret ke dalam nereka. Mengapa ? Karena ternyata mereka hanya ingin mendapat gelar sebagai orang alim dan pintar. Golongan ketiga adalah seorang laki-laki yang seluruh kekayaannya dia korbankan. Tetapi nasibnya sama dengan kedua golongan sebelumya, ia tersungkur dan diseret ke neraka, karena ia melakukan itu agar dikatakan dermawan.

Masih banyak ayat-ayat Al-Qur'an maupun sabda Rasul yang menggambarkan akan bencana apa yang dialami oleh orang yang berbuat maksiat. Namun cukuplah kiranya beberapa ayat, hadits dan kisah diatas menjadi pelajaran bagi kita untuk bisa diambil hikmah dan membuat kita lari dari perbuatan maksiat.

Selanjutnya pada bagian dua dari tulisan ini akan kita lihat 26 pengaruh dan bahaya maksiat yang dapat langsung dirasakan oleh setiap diri manusia, seperti yang dituliskan

oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziah dalam bukunya „Aathaarul Ma’ashi wa Adraaruha" (Akibat Berbuat Maksiat).

See original: . AKIBAT BERBUAT MAKSIAT dan KEMUNGKARAN

Share

RUKUN AGAMA - Islam Adalah ad-Dien 2

Share

RUKUN AGAMA - Islam Adalah ad-Dien 1

Share

AKHLAK DAN ADAB-ADAB DALAM BERJAMA'AH siri akhir

Share

Teks Khutbah Aidil Adha 1430 Oleh Tuan Guru Hj Abd Hadi Awang

Teks khutbah Idul adha 1430 oleh Dato' Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang.

Klik untuk baca teks penuh khutbah Idul adha 1430H

1
2
خ ط بة عيدالأضحى 1430
الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر , الله أكبر ,
الله أكبر , الله أكبر . وللهالحمد .
الحَمَْدُ للهِ الذىِاَ نْ زلَ علَى عَبْدِهِ الكِ تابَ ولَم يجَعْلَ لَه عوَِجًا. أَشْهَدُ أَنْ لا إَِلَهَ إِلا الله وحَْدَه لا شَيرِكَْ لَه . لَه الْآَ سْمَ اءُ الحسْنُىَْ وَالصِّ فَاتُ الْعلُىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرسَُوْلهُ .
الَ مَْ بْعُوثُ رحَمْة لِلْ عَ الَمِ ين. اَللهَُّم صلَ وسَلَمِّ وَ بَ اركِْ علَىَ حَبِ يْ بِ نَ ا وَشَفِيْعِ نَا وَزُخْ رنَ ا
وَقُدْوَتِ نَا وَأسُْوَاتِ نَ ا مُحَمَّدٍ أَشْرفَِ الأَ نْ بِ يَ اءِ والمرُسَْلِيْنَ، وَاِمامِ الم تَُقِّيْنَ، وَق ا ئِدِ
الدُ عاةِ المجَُاهِدينِ , وَعلَىَ آلِهِ وصحْبِهِ وَمنَ سَارَ علَىَ نَهْجِه الِى يَوْمِ الدِينِْ . أَ مَّا
فبََيْعادُ .ِ ع ب ا دَ اللهِ، أُوْصِ يكْمُ وَإِ يَّاىَ بِ تَقْوىَ الله وَطَاعَتِهِ فَ قَدْ فَازَ الْمُ تَّقُوْنَ .
وَ تَ زَ وَّدُوْا فَ إِنَّ خَيْ رَ الزَّ ا دِ ال تَّقْوىَ. وَا ت قُ والله لَ ع ل كُ مْ ت ف ل ح و ن .
  ت  د)  ا  ا   ا ,!  ا - ي وا
ري أخيرة )  دان  دم  و  دا )   ر دان , (  را    دان
ى .   ا  ا   –   
3
 ان   ا    م ن د   إ  او    ر
,    ا  روه دم   إ  او    ن د  .  دة 
روه   در  ي  ي در  د  ا  ا  ن او   وا .    
 ا  , س ي  د   ، ا ق روه   در  دا  ,  دم
اورغ-اورغ  د  ا .  ي د  اد دا  ن ا  دو دا     ا
,  إ  ا   دا  دان  ي  ن  دارا , وا   ا  ا
:  ن ا  . وه  و ا  د ,    ادا د  دا 
           
دارا -   د  دا   , دارا   ن ا  ا  اورغ – اورغ )
.(  ي ر  د  ي  ا    ا دان . دارا 
:  و   ا   ل ا  ا ر 
((مَثلَ الْ مُؤْمِنِينَ فِي تَ وَ ادِّهِمْ وَ تَ اَ رحمُهِمِ وَتَ عَ اطُفِهِمْ مَثلَ الجسَْدِ الا وحد إِذَا اشْتكَىَ مِنْه عضُوٌْ
تَدَاعىَ لَه سَ ا ئِرُ الجسَْدِ بِ السَّهَرِ ا وَلحمْىَُّ)) رواهمسلم
دان  را  ,    دري  ن ا  ا  اورغ – اورغ )
روه   ,  دو  اث  در  ا   ا ,    , 
.(  دان د    ا
4
,  و   ا   يث م  ان دان  ا  ه د    ن د  دز  إ  او
 ا   ن  وا ,    را  دارا دام  را   ق دا 
و  .  دان     , رو  دان  ,  ا دان
  ام  , ي دا   ج ده   د  و ا  ا  
 ط  .  و   ا   ان دان حديث م  ا    د  
ان :  ا  دا  ا  
               
    
ان) دان  ا)  ا    را   ا  دا   اث   )
ري  دان  ا  ن ا  –   اث  ( و   ا   ل (حديث م  ر
( ء - 59  ا ) .(  –    دان   دي  آخيرة . ا
"!  د  ت دان 
  و   ا   ل ا  ر  و  د  ي د    ر
ل :     م   داو
لا تَ رْ ج عُ وْا ب ع ديِ ك فَّ ارًا ي ضر بُ ب ع ض ك مْ رِ ق اب ب ع ضِْ ب السُّ ي وْ ف (رواية الإ مام أحمد ,
ا لب خاري ,مسلم).
غ    ادا د  , ة و  ا   دي    )
.(    را  اغ دام  – اغ   د
5
 ا او     و   ا   ل ا  ر  ران او  ي ا  د  را 
ا   . ف ار دان إم  اث  دان ,  دي    را ا  .  إ
    –   ري ا   . دو   ي ق 
 ,  ل   دان   ق ام  ق  . 
:   رضي ا   م ت
اَل رُّ ج وْع إ لىالح ق خَ يْ ر مِ نَ ال تَّ مَ ادِ يْ فِيْ ا لْ ب ا طلِ .
.(  دا ()  و ا در    ا    )
,!  د  ت دان 
ث   ي   ا ,  إ  او    او    ا
ج    م  د   ا  ان  ا .  دان 
ان :  ا  دا  ن ا  . راغ  ن و دز  ا  ن د  دا دز  , 
           
               
             
          
,  م –  م     ا  , ج  او  ث   ا  م  (ادا
(    ن دان  ا   )   ي  ا  م –  ي م 
6
 دان ا , (   وان ) دان )    ) ران  ي ا  دان
دان  ي , ( ل)   را    ب  ا  م –  م   روم 
.   –   دي   را  – را  ن  م  د 
( ب (ا  ي د     ادا د  ام    دي   دان
ي   ا  . (  ا  ب ا  ت  ق) س وي   اورغ  ا
 را  – را    ي) , دا ) ن ا  اورغ – اورغ  ق
 دان ا .  ا  ل) د )   را  ي  د ()  دي 
ل ).    ت ي  دي  ف  ق ي س
( ة : 213  ( ا
!  ا  در  ت دان 
  ا ,  ي دان     ان ا  ت ا  ت –ا  ا  د
ق   و دان ,  ب ا  ت  ق  اداث اورغ  ا  دان
  , ض  ب ا      ,  ف دان  ن ي د 
 م ا  ء را   او  د   را ا  ا .  و   ا   ل ا  ر  او  دا
 ق  –     ,  ا  او .   را  ب – ب  ددا
.  و   ا    رن م  دان ا  ب ا       دو 
ان  , ق د    را   دو د     و ادا اورغ – اورغ 
ق  , ج  را و  , ن ي  و د  ي , دان  ق دان   م
 ا ق  ,  إ  در   را   ض د   و ,   
 ا  م  غ د  غ دان  ج ا ان  . دان آخيرة  دم 
7
  را   غ دا  غ رغ   ى دان ا  دان   دا 
:  ن ا  ان  , اث  در
                
  
غ    ى دان  دان  را   دا   غ (دان
 ا  ا  ,  ا    ا دان .  دان  را دو   غ دا 
( ة : 2  ا ) .(  اس  
.!  ا  در  ت دان 
ي  ي – را  ا ق ام    ن د  دة     ري ا 
,  ا  ي د  ان   د ,  دا  دان  ج 
  ر  د  –  ي , ادا     او   ي
,  دا   –  دان  ن ا  دة   رو  غ غ رو  ج را 
,  ان ا  إخلاص  د    را  دام    ا ق ان ام 
  ت ق  ث ا  .  م   ق ق – م  ان  ن
:  ن ا  .  ا  ت ت    دان
             
        
8
  ,  ا  ي  ا  –  ق  ن ا  ر  دان داره  (دا
 د  ا  .   ى در   ر دا   إخلاص    اث ا  ي
  دان .   م  ا ان   ا   ي ,    ا 
( 37 :  ا ) . (  ات   اورغ – اورغ  ا
.!  د  ت دان 
اه  اف دا  د  إ  او    ض م   ري راي , ا   
,  –  دفلسطين , عارق , اف غانيس ت ان ,كشمير , فيليفي نا دان  ,  ا  دم
ن  و وا .  غ دان  رو  و در  دان د  د ,  ه , د  م د 
 إ  او   س ر  ا ج , دان    دا  ادا اورغ  -
ه – ه  ده او   د  دان د  درا   و –  و ,   روه دم  د
 ا   ل ا  ث حديث ر   . ؟  ي ا  را   ث م  ك ا  ,  إ
كُ :ا لأمم أَنْ تَدَاعىَعَلَيكْمُ ،كَمَا تَدَاعىَالأَْكَلَةُ إِلَى قصَْعَتِ هَا فَ قَالَ قَ ائِلٌ :منِْ قِلَّةٍ نحَنْ ِ وشُ و ي 
يَوْمَئِذٍ قَالَ : بَلْ أَ نْ تُمْ كَثيِرٌ، وَلكَنِكَّمُ غُ ثَ اءٌ كَغُ ثَ اءِ الَسيَّلِْ، وَلَ يَ نْزِعَن اَللَّه منِْ صُدُورِ عَدُوِّكمُْ
الَمَْ هَ ا بَةَ مِنكُْمْ، وَلَ يَقْذفِنََّ اَللَّه فِي قُلُ وبكُِمْ اَلوَْهْنَ، فَ قَالَ قَ ائِلٌ : يَا رسَوُلَ اَللَّهِ، وَمَا اَلوَْهْنُ؟
قَالَ :حبُُّ اَلدُّ نْ يَ ا وَكَرَاهِيَةُ اَلمَْوْتِ
 ا   اورغ – اورغ    ت ت – ر   ا    (او
ل  ي ر  وا  س ا     دأن   ث : ادا  ضر   رغ  .  م
 , ي را  س ا     ! ق :  و   ا   ل ا  ا ر  .؟  ا
ت    ان ا  . ( ت دان  ر)   ا  دا     دأن 
9
ن .  وا   ي د  ددا   ه , دان ا   دراس او   
 :  و   ا   ل ا  اب ر  .؟ ن ا  دي وا  ا :  ث  اورغ ا
.(  س) دان  )  ا دوم  
.!  ا  در  ت دان 
ا  ق أن    ,  حديث ا  ت دا  د  را   ل دان 
ن  دز  إ  ي او  د  ادا دا    ج , ا   دا  ا ,  ا ل دان 
  ,  و   ا   رن م  دان ا  ق ا    ,  ا
 س  دا ,  ه إ  – ه  ان در    د  إ  –  اغ  دان
.  ا  ا    ان   د د   
  ا إ  م  ه در  م     ا   ري   
اخيرث  , ود  دان راج  ا  و او  د   إ  ا  د    ا
ري آخيرة .  ض د  دان  دم  و  دا     ا
أعوذ باللهمن الشيط ان الرجيم
                
              
             
  

10
دي  ,  ا إ  م  او  د  ( إ)  رن ا  ا  ك ق  ف (دان
 ا  ددم  ا إ    . ي  د  دو   اورغ  ادا
 ا .   اورغ – اورغ  ق د  دي  ل ) دان دآخيرة م  دي ر )
ي  : اب   ا إ (   دي إ  )  د  : ث ت   ا
,  ام - ام   ي و   ا إ .  ا   دي دان    ان   إ
ا     ا  ,   ا   ام –  ي ام  ب : وا   ض م  
دأن   دا      ,  إ  ا ( ) ج  ا  
( ة : 132  ا ) .(  دي اورغ –اورغ إ 
بَ اركَ الله لِى وَلكَمُ فِى القُ رءَانِ العَظِيمِ ، و نَفَعنَِى وَأِ يَّاكُمْ بِاْلأ يَ اتِ وَالذكِّْرِ الحكَيِمِْ ،
قُ ولُْ قَوْلِى هذَا ا وَسَ تَْغْفِرُ الله ال عَظِ يمَْ لِى ◌َ و تَ قَبَّلَ منِىِّ وَمِنكْ مُ تلِاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الس يَّ معِ اُلعَلِيم . أ
وَلكَمُ لَوسَِ ا ئِرِ المسُلمِيْنَ ا ولمسُ لْمَِاتِ إنَّهُ ه و ال غفَُورُ ال رَّحِيم .
11
خ ط بة كدوا
الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, وللهِ الحمد. أَشْهَدُ
أَنْ لا إِلَهَ إِلا الله وحَْدَه لا شَيرِكَْ لَه . وَأَشْهَدُ أَنَّ محمدًا عَبْدُهُ وَرسَُوْلُه . اَللهَّمُ صلَ وسَلَمِّْ علَىَسَيِّدِ نَا
محمدٍ وَعلَىَ آَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمنَْ تَبِعَهُ وَنصَرَهُ وَاَ ولاهَ . أَ مَّا بَ عْ دُ ,
فَ يَ ا عِ بَ ا دَ اللهِ , أُوْصِيكْمُْ وَإِ يَّاىَ بِ تَقْوىَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُ تَّ قُوْنَ . وَ تَ زَ وَّدُوْا فَ إِ نَّ
!  . قْوتَى تَّ ال  ل دَّزاانِ د  ر ا َ يْ خَ
 رم  د   ن دان إ  إ  ث م  ف  ا  ، ري راي ا    ر
ن دان  إ  ددا  ث .  ام   ة   ، تع الي  ا  او  
: م ن  ا  دريض أي او  ج اسلام
{ يَ ا أَ يُّ هَا الذَِّينَْ آَمَنُوا ا تَّقُوْا الله حَقَ تُ قَ ا تِهِ ,ولَا تمَوُْتنَُّ إِلا وَأَ نْ تُمْ مسُلْمُِوْنَ }
 ا, دان  2  د  ا    ا , ن إ  اورغ 2  دث: وا 
. ا  ا دأن   ددا    
 ر دا  دارأن ا سلام   ث م  ف  ا   ك  ه اري ا 
ن دي   د  دارا    دي  رغ ا  ن ا إ  . ا  ددا
لا يُ ؤْمِنُ أَحَدكُمُْ حتَىَّ يحُبَِّ : و   ا   ل ا  ا ر  . ي  د  
لأخَِيْهِ مَا يُحَبُّ لِ نَفسِْه
12
ن  سوداراث  دي ك اسيه    رغ در  ن إ ق : دث 
ي.   د  
 اف   ن ا  ف اورغ ا    هير ددا    ا 
 د   د , ق دم  ات  د  ا  او    ن دان 
جه,  غ د    ا  دان او , را 2 ا  رن دم  ك م سكينن دان , 
 ادا . دان   , ع ارق , د  س ت د  ه م د ظالمي دان د
ف  جك .  وس د   در   ق ام  ا  اب او  دي 
ت  ء دان  ي د  2 ر , ك دان  واغ ر  د   
ن دان  ر  در   دان    ي  ي ا   ا 
. م 
! ت دان 
ات دان   او    ر  ا  ه دان   ري  
ي   ك يت   ا     و   ا    م  
 ي او   ا درا     ا . م ر د دان  ق 
آن:  ا  ددا  ا     ات دان 
{ إِنَّ الله وَملَآَئكَِتَه يصَُلُّوْنَ علَىَ النبَِّىِّ , يَا أَ يُّهَ ا الذَِّينَْ آَمَ نُوْا صَلوُّْاعَلَيْهِ وسَلَمِّوُْاتسَْليِْ مًا }
13
 وا  , م  ات  سنت ياس  را  دان  ا  : دث 
.2  د   ات دان   ن او  إ اورغ 2
اَللهَُّم صلَ علَىَ محمدٍ وَعلَىَ آلَِ محمدٍ ,كَ مَا صَلَّيْت علَىَ إِ بْ رَاهِيمَ وَعلَىَ آلَِ إِ بْ رَاهِيم .
وَ بَ اركِْ علَىَ محمدٍ وَعلَىَآلَِ محمدٍ ,كَ مَا بَ ارَكْت علَىَ إِ برَاهيمَ وَعلَىَآلَ إِ برَاهِيمَ فِى ال عَالَمِيْنَ
إِنكَّ حمَِيدٌ مَجِيدٌ . اَللهَُّم اغفِْرْ لِلْ مُؤْمِنِيْنَ وَال مُْ ؤْمِ نَاتِ وَالمْسُلْمِ ين وَالمْسُلْمَِاتِ الأحَْ يَ آءِ مِ نْهُمْ
اَ ولأمَوَْاتِ . رَ بَّ نَ ا اغْفِرْ لَ نَا ذُ نُ وْ بَ نَ ا وَذُ نُ وبَْ وَالِدِ يْ نَ ا وَارحمَْهْمُ كَمَ ا رَ بَّوْنَ ا
صِ غَارًا. رَ بَّ نَ ا اغْفِرْلَنَ ا وَلإِخْوَانِ نَا الذَِّينَْ سَ بَ قُوْنَا بِالإِ يَْمانِ وَلا تجَعْلَ فِْى قُلُ وْبِ نَ اغلِا لَّلِذَِّينَْ
آَمَ نُوْااَللَرَّهُب مَّ نَأَاعِزَّ إناَّلإكَ سِلاْرَم ؤَُوْوَالمٌْ ف رُ سلَّْحِميمِْ .َ ين , وَأَذلَِّ الشِّركَْ وَالمُْشْركِيْنَ , وَال نِّ فَاقَ وَالمُْ نَافِقِيْنَ وَالظُّلمَْ
وَال ظَّ الِمِيْنَ . اَللهَُّم إِ نَّ انَجعْلكََُ فِى نحُوُْرِ أَعْدَ آ ئِ نَ ا وَ نَعُوْذُ بكَِ منِْ شُرُوْرهِمِ . اَللهَّمُ رُدَّ كَيْدَهمُْ علَىَ
نحُوُْرهِمِ . اَللهَّمُ بَ دِّ دْ شَمْل هَُمْ وَفَ رقِّْ جمَعْهَمُ وَشَتتِّْ كلَِمَ تَهُمْ وَزَلْزلِْ أَقْدَامهَُمْ ,وسَلِّطْ عَلَيهِْمْ كَ لْ بً ا مِنْ
كلِاَبكَِ . اَللهَُّم انصُْرْ إِخْوَا نَ نَ ا المُْجَاهِدِينَْ وَالمْسُتضَْعَْفِيْنَ فى فَلسَْطِيْنَ , وَفِى العِارَقِ ,وَفِى كشَمْيِْر , وفَِى
جَ نُ وبِْ تَا يْلَنْد وَفِى كلُ مكَانٍ . اَللهَُّم قَوِّ عَزَائِمَهُمْ , اَ وجمعْ كلَمَِ تَهُم , وَ ثَ بِّتْ أَقْدَامهَُمْ ,
وَانصُْرْهُمْ علَىَ أَعْدَ آئِهِمْ .
اَللهَُّم آَتِ أَ نْفسَُ نَا تَقْوَا هَ ا, وَزكَِّ هَا أَنْت خَ يْرُ منَْ زكََّا هَ ا , أَنتَْ وَلِ يُّ هَا
قا وَارْزُقْ نَ ا ا تِّ بَاعَهُ , وَأَرِ نَ ا ا لْ بَ اطِلَ بَ اطِلا وَارْزُقْنَ ا

See original: Parti Islam Semalaysia (PAS) Teks Khutbah Aidil Adha 1430 Oleh Tuan Guru Hj Abd Hadi Awang

Share
dakwatuna.com's picture

Kekuatan Ruhiyah Seorang Dai

11/6/2007 | 26 Jumadil Awal 1428 H
Oleh: Mochamad Bugi

Pembentukan kepribadian seorang dai merupakan bekal asasi dalam mengemban tugas dakwah. Tentu kita sudah mafhum bahwa iman, ikhlas, berani, sabar, dan optimisme merupakan prinsip utama dalam membentuk kepribadian. Sifat ini tidak akan terkumpul kecuali jika para dai betul-betul merasakan manisnya iman. Iman yang membuat mereka memasrahkan diri kepada Allah swt. Sehingga mereka semakin mantap untuk melangkah menuju Allah swt. Untuk meraih kemenangan yang sesungguhnya: hidup mulia atau mati syahid.

Sesungguhnya Al-Qur’an telah memberikan paparan yang amat jelas tentang proses penyiapan rohaniah bagi seorang dai dalam pembentukan keimanannya dan tarbiyah yang menghantarkan pada tujuan tersebut. Sebagaimana dalam surat Al-Anfal ayat 29: “Hai orang–orang yang beriman, jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosamu). Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Juga dalam surat Al-Hadid ayat 28 dan surat At-Thalaq ayat 2 dan 3.

Bila kita renungkan ayat di atas, kita dapati bahwa takwa merupakan bekal utama bagi seorang mukmin, terlebih sebagai dai. Dan ketakwaan adalah kebajikan dan cahaya. Yang dengannya ia dapat memberikan sinar cahaya untuk membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Bila demikian halnya maka ia dapat mengikuti jalan petunjuk dengan mudah tanpa hambatan dan tersesat sedikit pun.

Sayyid Quthb menjelaskan makna surat Al-Anfal ayat 29 dengan menyatakan, “Inilah bekal tersebut. Inilah bekal dalam mengarungi perjalanan yang panjang. Yaitu bekal takwa yang menghidupkan hati dan membangunkannya. Bekal cahaya yang memberi petunjuk bagi hati untuk membelah sudut-sudut jalan sepanjang penglihatan manusia. Cahaya ini tidak bisa ditipu oleh syubhat-syubhat yang mata biasa tidak bisa menembusnya. Itulah bekal ampunan bagi segala dosa. Bekal yang memberikan ketenteraman, kesejukan, dan kemantapan. Bahwa takwa kepada Allah itu menjadikan nilai furqan dalam hati. Ia bisa membuka jalan-jalan yang bengkok.

Sesungguhnya al-haq itu sendiri tidak menutup-nutupi fitrah, tetapi hawa nafsulah yang menolak al-haq dan fitrah. Hawa nafsu itulah yang menyebarluaskan kezhaliman, menghalang-halangi penglihatan dan membutakan jalan-jalan kebenaran, serta merahasiakan petunjuk. Hawa nafsu itu tidak bisa hanya didorong dan didukung oleh hujjah. Akan tetapi ia hanya bisa digerakkan dan ditopang oleh takwa, rasa takut kepada Allah, dan muraqabah (pengawasan) Allah di saat sepi maupun ramai. Dengan sendirinya furqan itulah yang menyinari hati, menghilangkan kerancuan, dan membelah jalan-jalan kebenaran.

Takwa adalah hasil yang pasti. Ia adalah buah nyata dari perasaan yang mempunyai keimanan yang dalam. Keimanan ini bersambung dengan muraqabah Allah, takut kepada-Nya, dan takut akan marah dan siksaan-Nya. Dan senantiasa memohon ampunan-Nya dan pahala dari Allah. Atau takwa itu –sebagaimana dikatakan oleh ulama– adalah: “Menjauhi (takut) azab Allah dengan mengerjakan amalan yang shalih dan takut kepada-Nya di saat sepi dan ramai.”

Berpijak dari sinilah Al-Qur’an sangat memperhatikan fadhilah takwa. Hal ini bisa dijumpai dalam berbagai ayat-ayat yang jelas dan gamblang. Sehingga hampir-hampir orang yang membaca Al-Qur’an belum sampai membaca satu halaman atau baru membaca beberapa ayat melainkan di situ ia mendapati kata takwa.

Dari sinilah para sahabat dan salafus shalih sangat serius memperhatikan takwa. Mereka benar-benar telah mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Mereka bersungguh-sungguh ingin mencapai derajat takwa dan meminta sifat takwa kepada Allah swt. Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Umar Al-Faruq bertanya kepada Ubay bin Ka’ab mengenai ‘Apa itu taqwa’. Ubay bin Ka’ab menjawab: ‘Bukankah Anda pernah melewati jalan yang berduri?’ Umar menjawab: ‘Ya benar’. Ubay berkata: ‘Itulah taqwa.’

Atas dasar itulah, Sayyid Qutb menjelaskan dalam tafsirnya Fii Zhilalil Qur’an’, “Itulah takwa. (yaitu) hati yang sensitif, perasaan yang jernih, ketakutan yang terus menerus (kepada Allah), kewaspadaan yang tidak henti-hentinya dan menjauhi duri-duri jalan, yaitu jalan kehidupan yang senantiasa diliputi pengharapan yang tak bermakna dan syahwat, duri-duri ketamakan dan ambisi, duri-duri ketakutan dan kecemasan, duri-duri takut terhadap sesuatu yang tidak mempunyai manfaat maupun mudarat, dan berpuluh-puluh duri-duri yang lain.”

Lantaran jalan untuk meraihnya tidaklah mudah, maka upaya untuk itu diperlukan modal utama. Yakni, pertama, al-Iman (keimanan). Seorang dai mesti meyakini Allah swt. dalam segala ruang lingkupnya. Yakin akan ajaran-Nya, yakin terhadap pembelaan-Nya, yakin dengan balasan dan sanksi yang dijanjikan-Nya. Iman yang kokoh tidak akan membuatnya goyah dalam mengarungi jalan dakwah yang penuh liku ini.

Modal keimanan ini tidak boleh berkurang sama sekali. Bahkan ia harus selalu penuh dan penuh. Bila perlu senantiasa surplus sehingga dapat memudahkan diri mengemban amanah dakwah ini. Perhatikan bagaimana sikap sahabat dalam mengemban tugas dakwah yang tidak pernah kendur lantaran keimanannya yang selalu meningkat seperti yang Allah gambarkan dalam surat Al Ahzab ayat 22–23.

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka Berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur; dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).

Kedua, al-Ikhlas (keikhlasan). Maknanya adalah senantiasa berharap hanya pada Allah swt. sehingga ia tidak kendur dalam meniti jalan panjang ini. Seluruh amal yang dilakukannya diserahkan kepada Allah swt. Tidak pernah terbetik sedikit pun interes duniawi dalam hatinya. Sebab sedikit saja ia tergelincir, bisa merusak kekokohan hatinya berdakwah. Seorang pengemban dakwah ini selayaknya selalu memiliki daya tahan terhadap rayuan dunia. Dalam hatinya hanya balasan dan keridhaan Allah semata yang paling berharga. Perhatikanlah surat Al-Kahfi ayat 28.

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.

Ketiga, asy-syaja’ah (keberanian). Seorang dai mesti berani berdiri di atas jalan yang penuh resiko ini. Keberanian membuat dirinya tidak pernah surut dalam melangkah. Berani sebagai prinsip para ksatria dakwah. Ia tahu betul bahwa yang ia bawa adalah kebenaran sehingga rasa takutnya hanya pada Allah swt. dan siksa-Nya yang amat pedih. Bila demikian ia akan terus berdiri tegar bagai batu karang di tengah lautan yang kokoh meski diterjang badai. Keberanian ini juga bersumber dari keyakinannya pada ketentuan Allah yang telah digariskan untuknya. Sebagaimana nasihat Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas r.a. agar yakin pada takdir yang ditetapkan Allah swt. akan mudharat dan mashalat yang berlaku pada dirinya. Lihatlah surat Al-Maidah ayat 44.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.

Keempat, ash-shabru (kesabaran). Perjalanan yang dihiasi debu-debu kesulitan ini membutuhkan kesabaran yang besar. Sabar terhadap jalan yang ditempuh dan sabar terhadap orang-orang yang didakwahinya. Kesabaran menjadi kunci sukses dalam jalan ini. Ia tidak tergesa-gesa untuk mencapai hasil. Ia juga tidak akan cepat mengeluh lantaran beratnya medan dakwah yang ia tekuni. Ia tampil dengan semangat kesabarannya yang akan membawanya memetik buah dakwah ini. Sebagaimana ungkapan Hasan Al Banna, “Barangsiapa yang tergesa-gesa ingin memetik buah sebelum masanya, maka tinggalkanlah jalan ini. Dan barangsiapa yang bersabar, marilah jalan bersamaku.” Sebab, kesabaran modal menuju kemenangan. Perhatikan surat Ali Imran ayat 200.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Kelima, at-tafa’ul (optimisme). Seorang dai tidak boleh pesimis sedikit pun walau menghadapi berbagai kondisi yang tidak mengenakan hatinya. Ia harus mengokohkan bangunan optimisnya agar selalu penuh harapan dan tidak ada ruang kekecewaan sekecil apapun dalam jiwanya. Sekalipun saat itu ia harus berhadapan dengan rintangan maupun cemoohan manusia. Ia tidak boleh balik ke belakang karena tekanan itu. Sebagaimana Rasulullah saw. di saat menghadapi cemoohan masyarakat Thaif. Beliau masih memiliki harapan yang besar dengan menyatakan, “Aku berharap anak cucu mereka dapat menerima seruan kelak.” Dan ternyata harapan itu terwujud. Lihatlah surat Ali Imran ayat 139.

Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.

Adapun upaya untuk meningkatkan ketakwaan diri yang menjadi bekal bagi dai untuk mengokohkan kepribadiannya, di antaranya sebagai berikut:

1. Al-mu’ahadah (berikrar)

Yang dimaksud mu’ahadah di sini adalah mengikrarkan diri kepada Allah dengan sebenar-benarnya untuk merealisasikan janji sebagaimana dalam surat An-Nahl ayat 91: “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kalian berjanji dan janganlah kalian membatalkan sumpah-sumpah kalian itu, sesudah meneguhkannya, sedang kalian telah menjadikan Allah sebagai saksi kalian (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian perbuat”.

Adapun salah satu upaya untuk melakukan mu’ahadah dapat berupa pernyataan sikap seorang mukmin dalam kesendiriannya kepada Rabb-nya dan berkata pada jiwanya: “Wahai jiwaku, sesungguhnya aku telah menyerahkan janji kepada Allah dalam kegiatan sehari-hari di hadapan Allah swt.”; dan memanjatkan doa: “Hanya kepada-Mu lah, ya Allah, aku beribadah dan meminta pertolongan. Tunjukilah aku ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau marahi dan orang-orang yang sesat.” Wahai jiwaku. Bukankah dalam munajat yang telah engkau ucapkan di hadapan Allah adalah ikrar dari engkau bahwa engkau tidak akan beribadah kecuali kepada Allah. Engkau tidak akan meminta pertolongan melainkan hanya kepada Allah. Dan engkau akan iltizam dengan jalan Allah yang lurus.

Setelah ikrar tersebut, perlu dicamkan pernyataan berikut ini bahwa siapa yang melanggar janji sesungguhnya ia hanyalah melanggar janjinya sendiri. Siapa yang sesat, sesungguhnya ia telah menyesatkan dirinya sendiri. Dan seseorang itu tidak akan menanggung dosa orang lain dan Allah tidak akan menurunkan siksa-Nya melainkan setelah datangnya Rasul. Wahai saudara, sesungguhnya apabila Anda mengikat diri Anda setiap hari untuk iltizam dengan janji-janji ini yang Anda berikan tiap hari sebanyak tujuh belas kali atau lebih kemudian Anda menepati janji tersebut dan melaksanakannya, maka sesungguhnya Anda mulai naik menuju tangga takwa. Anda berjalan menuju rohaniah. Dan di akhir perjalanan, Anda sampai menjadi orang-orang yang bertaqwa.

2. Al-muraqabah (merasa diawasi)

Sebenarnya muraqabah adalah sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya apa itu ihsan: “Yaitu engkau hendaklah beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu”. (Muslim).

Arti muraqabah adalah menghadirkan kebesaran dan keagungan Allah di setiap waktu dan kondisi ketika sendirian maupun waktu beramai-ramai sehingga kita selalu merasakan kebersamaan dengan Sang Maha Melihat dan Mendengar.

Adapun upaya untuk meningkatkan muraqabah adalah: Hendaklah seorang mukmin memeriksa dirinya sebelum melakukan sesuatu pekerjaan atau di tengah-tengah proses kerja. Apakah pekerjaan ini digerakkan oleh kepentingan pribadi dan mencari sanjungan atau kemasyhuran. Ataukah ini digerakkan oleh keridhaan Allah dan mencari pahala dari–Nya. Apabila pekerjaan tersebut didorong karena Allah, hendaknya ia terus melangkah ke depan tanpa ragu-ragu. Tapi sebaliknya jika digerakkan hawa nafsu, sepatutnya ia berpaling dari padanya, meninggalkannya dan memperbaharui niat kembali dan bertekad untuk memulai mengerjakan amalan yang baru dengan tajarrud dari semua kepentingan pribadi, ikhlas dan mencari keridhaan Allah semata. Ikhlas dan tajarrud yang sebenarnya menjadi pembebasan yang menyeluruh dari tempat-tempat kemunafikan dan riya’.

Imam Hasan Basri –semoga Allah merahmatinya– berkata: “Semoga Allah merahmati seseorang hamba yang serius memperhatikan niatnya. Apabila niatnya itu karena Allah swt., maka ia terus berjalan; dan apabila bukan karena Allah, ia berhenti tidak meneruskan amalan tersebut.” Muraqabah Allah bagi seorang hamba itu bermacam-macam: muraqabah Allah dalam hal-hal yang mubah, maka muraqabah ini dengan jalan menjaga norma-norma dan mensyukuri nikmat.

Sesungguhnya jika Anda mempunyai muraqabah Allah sampai ke tingkatan ini, maka dengan tidak ragu-ragu lagi Anda telah menapaki jalan takwa. Anda melangkah ke jalan rohaniah dan di penghujung akhir Anda tiba di tempat orang-orang yang bertakwa.

3. Al-mu’aqabah (memberikan sanksi)

Maksud mu’aqabah ini adalah untuk memperkokoh kehendaknya mencapai ketakwaan dengan memberikan sanksi bila melakukan hal-hal yang dapat melemahkan cita-cita tersebut. Betapa pun manusia telah mengevaluasi dirinya, akan tetapi ia tidak akan terbebaskan dari perbuatan maksiat dan melakukan kekurangan berkaitan dengan hak Allah sehingga ia tidak pantas untuk mengabaikannya. Jika ia mengabaikannya, maka ia akan mudah tergelincir melakukan kemaksiatan. Jiwanya menjadi senang kepada maksiat dan sulit untuk memisahkannya. Hal ini merupakan sebab kehancurannya sehingga mu’aqabah menjadi sangat urgen untuk mencapai hal tersebut.

Pada dasarnya sanksi ini untuk semakin meningkatkan integritas dirinya dalam mengemban amanah dakwah ini. Seorang dai tidak boleh sungkan-sungkan untuk memberikan sanksi atas dirinya. Coba bayangkan bagaimana para sahabat terdahulu yang telah bersusah payah memberikan sanksi pada diri untuk mendapatkan ampunan-Nya. Mereka lakukan itu dalam rangka memperbaiki dirinya dari kesalahannya sehingga kesalahan tersebut tidak terulangi lagi. Keraguan untuk memberikan sanksi dapat menggampang-gampangkan semua urusan. Bila ini dihubungkan dengan dakwah, maka amat sangat fatal akibatnya.

4. Al-mujahadah (bersungguh-sungguh)

Mujahadah adalah berupaya sungguh-sungguh untuk mencapai derajat ketakwaan dan kekuatan rohaniahnya sehingga semaksimal mungkin mengerahkan berbagai potensi untuk bisa meraihnya. Setelah Anda mengetahui hal ini, marilah Anda ke tempat peristirahatan yang khusus. Apabila Anda meletakkan barang-barang bawaan Anda di tempat tersebut, maka Anda akan bernafas dengan nafas-nafas keimanan. Anda akan berbekal takwa. Diri Anda akan bersinar terang dengan cahaya rohaniah. Dan Anda akan menjadi insan yang shalih, mukmin dan bertaqwa, muslim yang berwibawa dan orang yang mukhlis. Bahkan jika Anda berjalan, maka dalam jalan Anda akan ada ketenangan. Apabila Anda berbicara, maka dalam pembicaraan Anda pengaruh yang kuat. Apabila Anda berbuat, maka perbuatan Anda adalah qudwah. Apabila Anda muncul, maka raut muka Anda ada daya tarik tersendiri. Dan apabila Anda melihat, maka dalam penglihatan Anda ada cahaya terang. Di tempat ini Anda akan menemukan proses tarbiyah dan mujahadah yang akan menjadi sumber inspirasi dan pendorong ruhiyah seorang dai.

Bahkan tempat peristirahatan tadi akan menjadi penggerak utama baginya dalam memikul tanggung jawab. Ia akan menjadi pengemudi yang m

Beri Nilai Naskah Ini:
Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (1 orang menilai, rata-rata: 10,00 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...

Ada 9 komentar. Kirim komentar Anda.

Pembaca Naskah Ini, Juga Membaca:

* Dai Tak Mampu Berbahasa Arab
* Tiga Sebab Munculnya Ekstremitas
* Orisinalitas Dakwah
* Berdakwahlah Agar Selamat Dunia-Akhirat
* Renungan Surat Ash-Shaff Bagi Aktivis Dakwah

See original:

Share

Cari Jodoh Islam (Malaysia)

Advertise here for RM10 yearly per link / 1 line

Contact us to submit your ads

Syndicate content